Profreading sebelum Menerbitkan Tulisan


 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat malam Bapak/Ibu Pegiat Literasi Se-Nusantara.

Berjumpa kembali dengan saya Maesaroh, M.Pd, Sang Blogger Millenial.

Tindakan kreatif dalam menulis adalah menumpahkan ide-ide baru dalam menciptakan makna tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Terkadang, sebuah tulisan akan menimbulkan kekeliruan makna apabila tidak ditulis dengan teliti dan cermat.  Maka dari itu,  sebelum mempublikasikan tulisan, ada hal yang harus di perhatikan yaitu  melakukan Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan.

Malam ini saya akan menemani seorang Narasumber hebat  bernama Susanto,S.Pd atau akrab disapa dengan sebutan Pak D.Susanto. Beliau akan memandu kita bagaimana tulisan bisa terpublikasi dengan baik tanpa ada kesalahan dalam menulis atau dikenal dengan istilah "Typo", kesalahan ejaan atau pun tanda baca.

Beliau merupakan seorang Guru Kelas SDN Mardiharjo, Kab. Musi Rawas, Prov. Sumatera Selatan, yang dilahirkan Gombong Kebumen, 29 Juni 1971.

Seorang sarjana S1 PGSD ini sangat mahir dalam editing sehingga kemahiran itu mengantarkan beliau menjadi seorang editor pada komunitas pelatihan menulis asuhan Om Jay.

Kuliah malam ini, dibagi menjadi 4 segmen:

1. Pembukaan

2. Penjabaran materi (19.00-20.00 WIB)

3. Sesi Tanya Jawab (20.00-21.00WIB)

4. Penutup (21.00-selesai)

Agar diberi kelancaran, mari kita bersama buka acara malam ini, dengan memanjatkan do'a menurut kepercayaan masing-masing.

Sebelum kuliah dimulai, saya akan memperkenalkan sang Narasumber Andal di malam ini lewat CV beliau.

Assalaamualaikum wr. wb.

Mohon izin, kali ini saya bergabung bersama Bapak dan Ibu semua dalam kelas menulis  Gelombang 19 & 20

Materi sebelumnya, oleh Pak "Mazmo" Sudomo, banyak dikutip sebagian besar peserta yang mengumpulkan tulisan resume pelatihan:

 

Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

Topik bahasan kita malam ini adalah: Profreading sebelum Menerbitkan Tulisan

Ada beberapa teman di grup menulis, memberi kesempatan untuk membaca naskah-naskah mereka lalu meminta saya untuk mengedit tulisannya. 

Beberapa buku karya teman yang saya ikut di dalamnya sebagai editor di antaranya:

1.           Kunci Sukses Menjadi Moderator Online (Aam Nurhasanah), Desember 2020.

2.           Patidusa Pujangga Wiyata, Antologi Puisi Nusantara Bergema (Aam Nurhanasa, dkk), Januari 2021.

3.           Bait-bait Kerinduan, Antologi Puisi Ungkapan Rasa Rindu (Rofiana, S.Pd., dkk), Maret 2021, Januari 2021.

4.           Haru Biru Perjalananku, Catatan Perjalanan Tugas Kepala Sekolah Daerah Terpencil dan Satu Atap (“Ambu” Tini Sumartini), Maret 2021.

5.           Merajut Goresan Tinta Berbuah Karya (Herni Sunarya Banah, S.Pd.), Maret 2021.

6.           Purwakarya Literasi, antologi peserta Gel 18 (2021)

7.           Membongkar Rahasia Menulis ala Guru Blogger (Bersama Bu Noralia Puspa Yunita dkk), Juli 2021.

 

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut.

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan.

Dalam hal ini sangat sesuai dengan nasihat para pakar menulis, yakni: "Tulis saja, jangan pedulikan teknis. Salah biarkan saja dulu yang penting ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing."

Kehawatiran dalam menulis yang sering terjadi adalah: tulisan jelek, tidak layak baca, banyak kesalahan ejaan, kalimatnya tidak pas, dan sebagainya. Akhirnya terjebak untuk segera memperbaiki.

Apabila pengeditan tidak dilakukan dalam  menulis. Tulisan tidak akan menarik, maka yang akan terjadi adalah:  tulisan tidak akan selesai. Tulisan menjadi berkurang nilai kemenarikannya.  

Proofreading tidak membutuhkan orang yang ahli dalam bidangnya. Tetapi, kita sebagai guru saja bisa melakukannya. Yang penting kita bisa dan               memahami ilmunya dengan baik.

Proofreading dilakukan untuk memeriksa kesalahan dalam teks yang dengan  memeriksa kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata.

Perbedaan Proofreading dengan Editing antara lain:

Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan. Jadi, proofreading tidak hanya menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

Pengeditan merupakan proses yang melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa. Sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi.

Tugas seorang proofreader yaitu membetulkan ejaan atau tanda baca,dan juga  memastikan bahwa tulisan yang sedang diuji-baca bisa diterima logika dan dipahami pembacanya.

Proofreader mengalami kelebihan dari editing. Seorang proofreader harus dapat mengenali sebuah kalimat efektif, struturnya sudah tepat atau belum, hingga memastikan agar substansi tulisan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.

Tugas seorang proofreader adalah untuk membuat teks mudah dipahami pembaca dan tidak kehilangan substansi awalnya.

Cerita pengalaman sedikit ketika menjadi proofreader dan mengedit naskah antologi teman-teman.

Ada tulisan yang sudah bagus, uraian sesuai tema, struktur bahasanya bagus, kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang, tetapi terjadi kesalahan dalam meletakkan tanda koma atau tanda baca lainnya.

Ada juga tulisan yang masih "kacau" dari segi struktur, misalnya karena kalimatnya berupa kalimat majemuk yang terdiri dari banyak sekali kalimat tunggal, maka proofreader harus bisa memanngkasnya dan menjadikannya kalimat yang mudah dipahami. Tentu substansi dan maksud penulis tidak berubah.

Sebagai penulis kita juga bertindak sebagai proofreader, sebelum tulisan dipublikasikan di blog atau naskah buku dikirimkan ke penerbit.

Sikap seorang proofreader untuk tulisan orang lain, kita harus memiliki proofreader bersifat netral.

Seorang proofreader akan menilai karya secara objektif.

Langkah-langkah yang diambil dalam menjadi seorang proofreader:

1.       Proofreader bertindak sebagai seorang “pembaca”, artinya seorang proofreader harus membaca terlebih dahulu tulisa tersebut dari awal sampai akhir.

2.       Setelah itu, baru melakukan penilaian apakah karya penulis sudah bisa dimengerti pembaca atau justru berbelit-belit?

 

Bagaimanapun tujuan dari seorang proofreader karya sang penulis bisa lebih mudah dipahami pembaca. Bukankah kita menulis agar orang memahami ide yang dituangkan?

Bagaimana melakukanProofreading?

Selaras dengan pesan Mazmo.

1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit

3.  Konsistensi nama dan ketentuan

2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

Menjadi seorang blogger dan penulis buku. Seorang penulis harus bisa menjadi seorang proofreader. Dengan demikian, penulis yang melakukan proofreading, akan melakukan penilaian terhadap karya tulisnya. Apa sudah bisa dimengerti dengan mudah oleh pembaca? Hal ini, untuk menghindari kesalahan kecil yang tidak perlu, misalnya typo atau kesalahan penulisan kata, dan penyingkatan kata.

Meskipun blog itu milik pribadi dan bebas, pembaca Anda juga harus diperhatikan. Tidak ada kesalahan penulisan, (typo) akan membuat pembaca nyaman.

Kesalahan kecil lainnya misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya.

Cara mudah untuk memeriksa tulisan yang telah dibuat baik pada mikrosoft word dan juga blogger. Caranya adalah:

Pada Mikrosoft Word maupun di blog mencari kata yang salah dengan melakukan pencarian, dan menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F).

Lalu, ketikkan misalnya tanda "," (tanda koma).

Makan muncul highlight teks dengan warna kuning.

Setelah itu, kita periksa apakah ada kesalahan, atau ada spasi antara kata dengan tanda koma.

Hal yang sama lakukan pada tanda baca lainnya. Jika, hal ini kita lakukan maka pos blog menjadi bersih dari kesalahan pengetikan.

Kesalahan kecil lainnya yang biasa dilakukan adalah penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan.

Oleh karena itu, perlu sedikit keterampilan untuk membedakan keduanya.

 

Jika kata yang mengikuti di adalah verba atau kata kerja maka, di ditulis serangkai dan kata itu ada bentuk aktifnya yaitu jika diberi imbuhan me-.

Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Meskipun blog tidak mensyaratkan bahasa yang baku (suka-suka penulisnya) tetapi, minimal wajib tahu dan menerapkan aturan-aturan yang dicontohkan.

Sebelum dipublikasikan, kita lihat di pratinjau (preview) lalu jika ada kesalahan, pada draf kita tekan tombol CTRL+F,  lalu melakukan proses perbaikan tulisan seperti pada video.

Contoh sederhana proofreading:

Teks asli

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita non fiksi. Tetapi cerita non fiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya non fiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

Teks Perbaikan

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita nonfiksi. Tetapi, cerita nonfiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya nonfiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

non (adv) tidak; bukan: nonaktif; nonberas

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara). Misalnya: Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup. Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya

Jadi, jika saya melakukan proofreading saya menggunakan Alat Bantu, yaitu 1. puebi daring; 2. kbbi daring

Cara edit yang efektif agar tulisan kita sudah standar EYD dan aturan penulisan. Dengan cara mengeditnya jangan segera begitu selesai. Endapkan dulu, beberapa saat.

Cara edit yang efektif, pahami aturan dasar:

Struktur, minimal ada S-P, aturan Huruf kapital, aturan tanda baca, aturan pemenggalan kata, dan sebagainya.

Pada penerbit ada petugas, dan kata Pak Joko Penerbit ANDI, kalau tidak salah, unsur ejaan porsinya hanya 10% pada penilaian naskah.

Tetapi, jika tidak dilakukan proofreading, bisa saja banyak kesalahan yang menyebabkan editor penerbitan malah memberi skor kecil bagi tulisan kita.

Jika, tidak mampu melakukan proofreading sendiri, bisa meminta tolong jasa proofreader profesional.

Biayanya bervariasi, menurut salah satu situs penyedia jasa proofreader yang saya ketahui.

Ada sesuatu yang menarik yg td dikatakan oleh Bapak  Nara sumber tadi yaitu

" Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan.

Jadi, proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

Pengeditan merupakan proses yang melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi."

Pendapat pertama, alasannya karena istilah proofreading diterjemahkan sebagai "uji baca", maka mencakup kegiatan editing di dalamnya.

Yang kedua membedakan substansi. Tetapi, ketika di perusahaan penerbitan, biasanya dinamakan editor. Profesi sebetul yang mempunyai kapasitas besar dalam penyempurnaan sebuah buku sebelum dipublikasikan adalah Proofreader.

Kendala yang dihadapi saat menjadi Proofreader adalah, kendala pada tanda baca / punctuation. Melihat beberapa kesalahan yang ada pada tulisan dengan menggunakan CTRL+F dan PUEBI.

Dalam menjadi seorang Proofreader, ada kendala yang terbesar yang ditemukan dalam teks adalah struktur kalimat. Contohnya: Ini, maksudnya apa .... lah Kira-kira begitu. Untuk ini lakukan komunikasi deng penulis.

Tentang kekhasan, jika kekhasan itu "menerjang" kaidah, ya harus diluruskan, bukan?

Langkah-langkah untuk merubah kekhasan penulis oleh seorang Proofreader dalam merestruktur kalimat. Proofreader harus menanyakan kepada penulis tentang penempatan tanda baca, atau kata yang "nyeleneh". Secara struktur bahasa. Jika itu, merupakan kalimat majemuk yang panjang, kita penggal menjadi beberapa kalimat tunggal, tidak akan mengubah ide pokok.

Jika, yang dimaksud adalah pengeditan kata atau kalimat. Misalnya, ketika kita membaca tulisan tersebut ada yang janggal atau keliru. Kita bisa menyalin kata-kata tersebut, dan kembali ke draf lalu mencari pada kolom yang dengan CTRL+F, pasti kita akan menemukannya.

 

Langkah yang tepat untuk melakukan proofreading dalam menulis adalah:

Apabila, kita menulis naskah pada mikrosoft Word, langsung saja kita baca lalu ketemu kata yang salah ketik, betulkan. Dengan cara menulis saja, dahulu sampai selesai. Tunggu beberapa saat. Kembali ke tulisan, lakukan proofreading.

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mengarah dan mengikuti aturan sesuai PUEBI. Dengan demikian, tulisannya bisa dipahami dengan mudah.

Dalam melakukan Proofreader dalam sebuah teks atau pun naskah. Kita harus selalu kontak terus dengan penulis untuk menanyakan maksud dari kalimatnya. Sehingga, Proofreader bisa memperbaiknya dengan mudah. Dan tulisan menjadi lebih menarik dan bagus di mata pembacanya.

Kita tidak mungkin menguasai segalanya, hanya orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kompetensi: penulis, proofreader, editor, sekaligus.

Berbahagialah Anda yang memiliki talenta ketiganya.

Sebagai seorang penulis, kita harus memiliki keterampilan sebagai berikut:

Penyunting tulisan sendiri. Maksudnya, agar memberikan penarikan yang luar biasa kepada pembaca. Kalimat maksimal 20 kata. Agar pembaca tidak jenuh dalam membaca tulisan kita.

Demikianlah materi kuliah pada malam ini. Mudah-mudahan kita semua bisa sebagai penulis, Proofreader, dan juga sebagai editing, minimal dari tulisan sendiri.

Komentar